stmaria.info Wilayah St. Maria Paroki St. Yakobus Keuskupan Surabaya
  Home Berita Agenda Galeri  
   
 
  ROMO MENJAWAB

 

 
     
Dari: Natalia  
  Pertanyaan:  
  Romo yang terkasih dan selamat sore, Saya bingung dengan Sakramen Perkawinan kami yang telah diberkati oleh seorang Romo yang sudah meninggalkan imamatnya dan juga putri kami yang telah dibaptis oleh Romo yang sama. Apakah Sakramen Perkawinan kami dan baptisan anak kami masih sah? Mohon penjelasannya. Terima kasih.  
     
  Jawaban:  
 

Ibu Natalia yang dikasihi Tuhan, Saya ingin memberikan beberapa penjelasan untuk pertanyaan ibu:

(1) Sakramen adalah upacara suci yang menandakan Tuhan masih mencintai & memelihara umat-Nya dengan cara (Sakramen Baptis) memberi Roh Kudus, membebaskannya dari iblis, memulihkan Citra Allah dan memasukkannya dalam Keluarga Allah, dan (Sakramen Perkawinan) memberi teman hidup, mengikutsertakan dalam karya penciptaan (anak) dan pembangunan Keluarga Allah (bangsa) dan melimpahkan rahmat kepada keluarga, dan sebagainya.

(2) Jadi, yang berkarya  itu bukan pelayan-Nya tapi Tuhan sendiri. Upacara suci dan pelayan-Nya hanya tanda duniawi fana mengenai realitas surgawi abadi (Tuhan terus mencintai dan memelihara umat-Nya). Walau tanda duniawi dan pelayan-Nya itu kecil, kotor dan nantinya musnah, namun Tuhan yang ada di baliknya tetap ada dan tidak berhenti mencintai dan memelihara umat-Nya.

(3) Santo Agustinus, uskup dari Hippo (357-430) mengatakan. “Sakramen tetap sah walaupun diberikan oleh imam pendosa, sebab Tuhan sendirilah yang mengerjakan sakramen”.  Ex opere operato Christi, artinya, dari upacara suci yang dikerjakan langsung oleh Kristus sendiri, mengalirlah Rahmat yang langsung menggarap si penerima.

(4) Sakramen adalah tanda dari atas (Rahmat Allah) dan tanda dari bawah (Iman). Iman ini bukan hanya iman Romo, tapi imanku sendiri. Iman adalah maklumat pribadi ”Ya saya mau” dicintai dan dipelihara Tuhan. Tanpa penerimaan (Iman) dari manusia, Rahmat Allah ditolak, lalu menjadi tidak efektif. Sedangkan Rahmat yang ”disambut”, turun atas penerima, mengerjakan keselamatan dan berhasil.

(5) Ekklesia supplet (umat Allah secara bersama membentuk iman, saling melengkapi  yang kurang menjadi iman utuh). Dalam baptis bayi, iman bayi diwakili umat Allah. Tidak seorangpun yang sudah hancur lebur, tidak butuh Rahmat Allah. Tapi semua orang sangat merindukan-Nya. Dengan disambut baik-baik, Rahmat turun dan berkarya efektif.

(6) Sekali Allah memutuskan menciptakan dan mau menjadikan manusia Kekasih Allah, Citra Allah & Keluarga Allah, keputusan itu abadi, tak dapat dibatalkan, harus jadi. Baru manusia merusaknya saja, Allah turun ke dunia ”bertaruh nyawa” memulihkannya. Apalagi kalau sudah ”Ya saya mau”. Sakramen Baptis memberi Meterai kekal. Sakramen Perkawinan: Apa yang dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan manusia.  Demikian penjelasan yang bisa saya berikan, semoga bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati.

 

 

~ RD. B. Justisianto

 

 
     
Dari: Putri  
  Pertanyaan:  
  Romo,5 tahun yang lalu kami menikah setelah melewati masa pacaran enam bulan. Saat itu saya masih relatif muda, suami sudah mapan dengan pekerjaan yang menjanjikan masa depan. Kebahagiaan terbayang nyata di depan mata. Tahun pertama perkawinan, suami sibuk dengan pekerjaan dan teman-temannya, dan tidak mempedulikan saya dan urusan keluarga. Pertengkaran-pertengkaran mulai sering terjadi; saya ingin dia berubah. Saya menyesal telah menikah dengannya, saya ingin berpisah dan merencanakan masa depan yang lebih baik bagi saya. Mohon pendapat dan pencerahan dari Romo.  
     
  Jawaban:  
 

Putri, Romo ikut prihatin dengan situasi yang anda alami. Anda berhadapan dengan kenyataan bahwa pasangan tidak seperti yang anda harapkan, lalu kecewa dan berusaha mengubahnya menjadi seperti yang anda kehendaki. Terlebih kecewa lagi karena pasangan semakin jauh dari harapan. Kini anda bukan hanya kecewa, tetapi juga terluka. Umumnya ada dua macam reaksi dalam masalah sulit seperti ini. Pertama, menyalahkan pasangan sebagai penyebab semua kebuntuan ini, lalu menuntutnya bertanggung-jawab dengan jalan “berubah” agar situasi menjadi baik kembali. Relasi suami istri adalah tanggung-jawab bersama, tak hanya satu pihak yang harus bertanggung jawab atau dipersalahkan. Menyalahkan pasangan, tidak memperbaiki keadaan, justru sebaliknya, semakin menggerogoti relasi. Kedua, menyalahkan diri sendiri juga merupakan salah satu reaksi yang tidak produktif dalam menghadapi masa-masa sulit perkawinan. Penyelesaian seperti kata-kata, “Seandainya aku dulu….” Atau “Dulu aku terlalu tergesa-gesa….” atau “Aku masih terlalu muda….” dll hanya bertujuan membangun pembenaran diri dan meyakinkan diri bahwa hubungan ini perlu diakhiri. Apapun alasannya dahulu, kenyataannya anda dan pasangan telah mengambil keputusan untuk saling mengikat diri dalam perkawinan. Jadi, anda berdua bertanggung jawab untuk mempertahankannya; memulai lagi dan memulai lagi setiap kali jatuh. Memang, kerapkali ada banyak hal yang tidak dapat kita pahami. Laki-laki dan perempuan dipanggil untuk saling memberikan diri dalam perkawinan. Itulah cara mereka memenuhi janji perkawinan secara serius.

Betapa Yesus menghargai perkawinan! Terhadap pertanyaan tentang perceraian, Yesus menghantar kembali kaum Farisi pada kisah penciptaan, “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Markus 10:9).

Kepada pasangan suami-istri, Yesus mengatakan bahwa hal yang terpenting adalah saling menghormati satu sama lain, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Matius 5:28). Yesus menghargai perkawinan dengan kehadiran-Nya, “Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu” (Yohanes 2:1-2). Situasi perkawinan di Kana sama seperti situasi perkawinan yang anda alami; Yesus juga turut hadir di sana. Kehidupan perkawinan adalah kehidupan di dalam Tuhan. Perkawinan bagaikan persatuan Yesus dan Gereja. Dalam perkawinan, kristus dan manusia saling memberi dan menerima. Bila anda berdua saling mencintai, saling menunjukkan kebaikan dan kemurahan hati satu sama lain, anda ikut ambil bagian dalam misteri cinta Allah. Iman membuat perkawinan menjadi sebuah gambaran tentang cinta Kristus kepada Gereja. Inilah yang membuat perkawinan menjadi sebuah perkawinan di dalam Tuhan.

 

~ RD Antonius Padua Dwi Joko

 

 

 
     

 

 

 
  UPDATE BERITA
Ketentuan Penerimaan Komuni Pertama 2016
 
Aneka Simbol Paskah dan Maknanya
 
Fun Game Minggu Paskah Setelah Misa Paskah Anak-anak Gereja St. Yakobus Citraland Surabaya
 
Jadwal Prapaskah Paskah 2015 Gereja Santo Yakobus - Citraland Surabaya
 
Keluarga Sebagai Sekolah Iman Yang Penuh Sukacita
 

Kirimkan Pertanyaan anda disini
Dari:
Telp:
Email:
Judul_tanya:
Pertanyaan

 

 
     
HOME | BERITA | AGENDA | GALERI
Biak: 68 | Rekat: 46 | Mudika: 169 | Dewasa: 279 | Lansia: 160 | KK: 158
Copyright © 2013 - 2017 stmaria.info